Setelah terbalasnya pesan yang ia kirim untuk Damian, Nellson keluar dari dalam kamarnya. Bertepatan dengan Damian yang sedang berjalan menuju meja makan—tepat saat Damian berjalan melewati kamar Nellson. Tatapan mereka bertemu, sebelum keduanya melepas dan sibuk melanjutkan kegiatan masing-masing.

Damian berdiri tepat di samping meja makan, dilihatnya satu sup yang masih mengeluarkan uap panas di dalam mangkuk. Damian mengerutkan dahinya, tatapannya memberikan tatap tanya akan sebuah sup. Sup? Damian tidak sedang sakit.

“Sup?” Tanya Damian tanpa menolehkan pandangannya. Tetap menatap lurus pada sup yang tengah tersaji.

“Iya.” Jawab Nellson.

“Saya sedang tidak sakit.” Balas Damian. Kali ini, ia menatap Nellson yang ternyata sedang menatapnya.

“Saya tau,” jawab Nellson sembari melanjutkan mendirikan jas milik Damian pada sebuah stan hanger. “Di luar hujan, dan cuaca belakangan ini lagi gak bagus. Jadi, sup cocok untuk makan malam sebelum tidur.” Lanjutnya tanpa menoleh.

Damian yang sedikit terhentak karena alasan konyol Nellson—pikirnya, memilih diam dan segera duduk untuk menyantap sup yang memang sebenarnya sangat menggugah selera.

Satu sendok sup yang ia tiup pelan, dicicipinya dengan penuh kehati-hatian. Sup hangat yang menyapanya, sangat manis dan enak. Rasanya begitu lembut untuk menyapa Damian di malam yang dingin sebab hujan di luar sana yang masih saja deras sejak sepuluh menit yang lalu.

Damian yang sibuk makan supnya, sedangkan di tengah ruangan, ada Nellson yang sibuk menguap jas Damian. Suasana penthouse Damian begitu sepi. Hanya ada suara hujan yang mengisi seluruh ruangan. Serta suara dari semprotan pengharum yang Nellson berikan pada jas Damian.

Di tengah sepi yang melanda, dering telepon dari ponsel Nellson memecah kesenyuian. Melepas fokus Damian pada suapan supnya. Melihat sejenak ke arah Nellson yang dengan cepat sedikit menjauh ke sudut jendela. Mengangkat telepon itu dengan sangat hati-hati, serta suara yang dipelankan.